
Purwakarta (2/3) WCT News – Di tengah kritik terhadap eksistensi serikat pekerja serta suara sumbang media sosial, sosok Siti Hanifa Auliana, Sekbid Hubungan Antar Lembaga & Politik PP SPAMK FSPMI, muncul dengan narasi segar yang menawarkan solusi revolusioner. Dari Ratin PP SPAMK FSPMI yang diselenggarakan di Purwakarta ini, ia tidak hanya menyuarakan optimisme, tetapi juga mengemukakan visi konkret tentang pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan sebagai kunci pergerakan buruh yang lebih efektif.
“Dari pagi sampai sore dalam keadaan berpuasa dan kurang istirahat namun saya melihat antusiasme para pengurus SPAMK FSPMI baik Pimpinan Pusat maupun daerah menambah optimisme bahwa SPAMK FSPMI akan mampu menjadi pionir pergerakan kaum buruh. Dengan semangat perubahan, pemanfaatan teknologi digital, kecerdasan buatan serta kemampuan individu dan team diharapkan dapat memperluas gerakan secara lebih efektif dan efisien bagi upaya peningkatan kesejahteraan kelas pekerja dan keluarganya serta kemanfaatan bagi masyarakat luas,” pungkasnya.
Investigasi WCT News menyoroti potensi kepemimpinan Khairul Bakhri dalam menakhodai SPAMK FSPMI melewati tantangan internal yang ada. Mampukah visi inovatifnya ini diterjemahkan menjadi kebijakan operasional yang konkret dan didukung oleh seluruh elemen organisasi, dari tingkat pusat hingga daerah?
Apakah ia memiliki strategi untuk mengatasi resistensi terhadap perubahan, terutama di kalangan pengurus yang mungkin lebih nyaman dengan metode konvensional? Pertanyaan krusial lainnya adalah bagaimana ia akan mengintegrasikan agenda transformasi digital ini dengan isu-isu mendasar yang sedang disorot, seperti memastikan setiap program berjalan dan setiap rupiah dana terukur akuntabilitasnya.
Visi Kepengurusan SPAMK FSPMI Periode 2026-2031 sangat relevan, namun tantangan sebenarnya adalah eksekusi. WCT News di Purwakarta mencoba menangkap suara dari para buruh dan keluarganya. Apakah program-program SPAMK FSPMI selama ini telah memberikan manfaat konkret, misalnya dalam advokasi upah, perlindungan sosial, atau peningkatan skill? Bagaimana persepsi mereka terhadap transparansi pengelolaan dana organisasi?
Jika program mandek, artinya inisiatif-inisiatif yang seharusnya meningkatkan kualitas hidup buruh tidak berjalan optimal. Jika keuangan tidak dievaluasi, ada risiko sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk kepentingan buruh malah tidak sampai sasaran atau bahkan disalahgunakan.
Ini menimbulkan pertanyaan kritis: berapa banyak potensi peningkatan kesejahteraan yang hilang akibat inefisiensi ini? Tanpa perbaikan signifikan dalam manajemen program dan keuangan, janji peningkatan kesejahteraan buruh melalui gerakan SPAMK FSPMI, meski didorong oleh visi modern dengan tagline Bersikeras, Berkelas dan Berintegritas ini, akan sulit terwujud secara maksimal.
Rentetan pertanyaan yang sudah disadari dan diantisipasi oleh jajaran pengurus dengan optimisme bahwa perubahan mampu diciptakan dan hari ini membuktikan bahwa teamwork mulai terjalin dengan orkestrasi yang berbeda di bawah kepemimpinan Khairul Bakhri. Pionir adalah sebuah keniscayaan.







Tinggalkan Balasan